Tuesday, 28 April 2015

Test Sidik Jari Untuk Mengetahui Bakat, Itu Penipuan?

Artikel ini saya kutip langsung dari website tips pendidikan anak yang mempunyai alamat link lengkap disini : : http://www.tipspendidikananak.web.id/2015/02/prof-dr-sarlito-test-sidik-jari-untuk-mengetahui-bakat-itu-penipuan.html

screenshot yang saya ambil pada tanggal 28 April 2015 adalah seperti ini :


Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini
sering ditanyakan kepada saya
adalah tentang Test Sidik Jari untuk mengetahui
kepribadian anak.

Saya sendiri yang sudah 43 tahun malang-
melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu
sebelumnya tentang keberadaan test tersebut dan tidak mau
ambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya.

Tetapi beberapa hari yang lalu, anak saya yang
kebetulan juga psikolog, berceritera
kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) temannya untuk
bergabung dengan usaha dia dalam usaha test
Sidik Jari. Lumayan, kata temannya
itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak
kecil, dan sekolah-sekolah, dan
biayanya Rp 500.000,-per anak.
Sebagai psikolog professional anak saya
meragukan validitas dan reliabilitas
(keabsahan dan kesahihan) test itu. Apalagi
dengan job dan statusnya yang sudah
mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di
atas UMR, dia tidak mau ambil risiko,
karena itu ia minta pendapat saya.

Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun
tidak percaya, tetapi saya
penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal
Psikologi (hampir seluruh dunia
yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh
mesin searcher dari Asosiasi Psikologi
Amerika (APA) dimana saya menjadi salah satu
anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekitar 40.000 tulisan yang
mengandung kata “finger print”.
Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira
terkait dengan sidik jari dalam
hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau
kecerdasan anak. Hasilnya: NIHIL!
Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci
Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit,
Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada
satu keluaran, yaitu tulisan
berjudul “Neurodevelopmental Interactions
Conferring Risk for Schizophrenia: A Study
of Dermatoglyphic Markers in Patients and
Relatives”, oleh
Avila, Matthew T.; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E.;
Blaxton, Teresa A.; Thaker,
Gunvant K. dalam Schizophrenia Bulletin, Vol
29(3), 2003, halaman 595-605. Jadi
tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan
antara gejala sakit jiwa
skhizoprenia (yang dipercaya merupakan penyakit
turunan) dengan pola sidik jari
(yang juga merupakan bawaan),
Sebaliknya, dari Google saya mendapat banyak
sekali keluaran setelah memasukkan
kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya
sendiri. Hampir semuanya berceritera
tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian
dengan test Sidik Jari ini. Bahkan
ada iklan promo yang menawarkan test Sidik jari
“hanya” untuk Rp 375.000 per anak.

Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang
pernah mencoba test yang katanya
pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah
satu kalimat promosi mereka adalah
bahwa “Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi
lebih tinggi daripada metode
pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”.
Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu
sudah mengetahui seluruh “rahasia”
kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka
dia tinggal ongkang-ongkang kaki
dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai
dengan petunjuk hasil test Sidik Jari,
dan anaknya akan menjadi orang yang pandai,
jujur, kreatif, berbakti pada orangtua,
beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang
lagi anggota Densus88. Tidak perlu
berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan
memeriksa sidik jari, mereka bisa
mengidentifikasi pembom bunuh diri
menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.
Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Upaya
manusia untuk mempelajari jiwa sudah
berawal sejak zaman Socrates, 400 thn sebelum
Masehi, dan melalui perjalanan
sejarah yang panjang sekali, serta mendapat
masukan dari berbagai ilmu, termasuk
ilmu faal dan kedokteran, serta matematika,
Wilhelm Wundt baru menyatakan
Psikologi sebagai Ilmu yang mandiri pada tahun
1879 di Leipzig, Jerman (versi
Amerika oleh William James, di sekitar tahun yang
sama di Universitas Harvard).

Pasca kelahirannya, Psikologi berkembang terus,
termasuk mengupayakan berbagai
teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek
kepribadian, termasuk test IQ,
minat, sikap, bakat, emosi dan seterusnya.
Kemajuannya sangat langkah-demi-la
ngkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan
sebagaimana ilmu pengetahuan
lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu
dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan
seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena
itulah maka langkah pertama saya
adalah mengecek jurnal ilmiah Psikologi untuk
memastikan apakah test Sidik Jari ini
termasuk metode yang diakui dalam Psikologi atau
tidak.
Di sisi lain, teknik analisis sidik jari juga sudah
berembang sejak 1800an. Tahun 1880
Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem
klasifikasi yang dibuatnya untuk
mengidentifikasi seseorang. Tahun 1901 teknik
yang disebut Daktiloskopi ini
digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di
kalangan pegawai negeri, 1905 di
Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai
oleh FBI. Tetapi semuanya adalah
untuk menentukan identitas fisik seseorang.
Misalnya, apakah benar sidik jari yang
ditinggalkan pelaku di TKP (Tempat Kejadian
Perkara) perampokan adalah milik si
Fulan. Sebelum ditemukan system DNA,
Daktiloskopi lah yang menjadi andalan Polisi.
Namun di kemudian hari, nampaknya teknik
analisis Sidik Jari yang awalnya hanya
untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik
identifikasi psikis (kejiwaan) juga.
Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih
sepupu Sir Charlis Darwin adalah
penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa
kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat
yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir
di sidik jari srtiap orang. Maka ia
menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan
memperkenalkan klasifikasi sidik jari
yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian.
Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin
berkembang dan diyakini sebagai
ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan
buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah”
mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan
kata kunci Dermatoglyphs akan
keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya
di luar komunitas ilmu psikologi.
Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya
adalah pseudo science (ilmu semu) dari
psikologi.

Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita
kenal adalah Astrologi (banyak di
majalah-majalah wanita dan remaja, tetapi tidak
pernah ada di Koran SINDO),
Palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya
mahasiswa sering saya pakai untuk
merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra
sambil meraba-raba tangannya),

Numerologi (meramal atau menjodohkan orang
dengan menggunakan angka-angka
tanggal lahir dsb.), Tarrot (dengan menggunakan
kartu-kartu) dan masih banyak lagi.
Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap
dengan literatur dan teknik masing-
masing, dan memang nampaknya sahih dan
canggih betul (ada yang putus dari pacar
gara-gara bintangnya tidak cocok).
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh
semua ilmu semu, yaitu tidak bisa
diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi, misalnya,
tidak pernah bisa dibuktikan hubungan
antara singa yang galak, dengan bintang Leo.
Apalagi membuktikan manusia
berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak
juga cewek Leo yang jinak-jinak
merpati, loh!).

Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa
diverifikasi bagaimana hububnannya
antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat,
perilaku, apalagi jodoh dan karir,
bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil
dari ratusan variable seperti faktor
sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan
alam, dan sebagainya, walaupun juga
termasuk sedikit faktor bawaan.
Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh
fator bawaan (nativisme) sudah lama
ditinggalkan oleh Psikologi . Teori yang berlaku
sekarang adalah bahwa kepribadian
ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari
lingkungan. Karena itu untuk
memeriksanya diperlukan proses yang panjang
(metode psikodiagnostik, assessment)
dan duit yang lumayan banyak.
Karena itu saya tidak pernah menyarankan orang
untuk ikut psikotes kalau hanya
untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih
sia-sia lagi kalau buang duit untuk
tes Sidik Jari. 

Dr Budi Matindas, psikolog (UI)
menerangkannya jauh lebih simpel:
sidik jari permanen dari lahir sampai mati. Jiwa/
kepribadian berubah terus dari bayi
sampai tua. Bagaimana sesuatu yang berubah bisa
berkorelasi dengan sesuatu yang
tidak pernah berubah?
Prof Dr Sarlito W. Sarwono ( Grur besar Psikologi UI) Tulisan ini dimuat di Koran
SINDO 15 Mei 2011. Atas permintaan
banyak pihak, saya muat ulang di sini.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...