Thursday, 25 December 2014

Aku butuh Ini, Kamu Butuh yang mana?


Pasar Rakyat di Bogor
 (foto dari : mylifepic.blogspot.com )
Pertanyaan simple diatas adalah ide dasar yang menciptakan sebuah pasar. Ya, pasar yang bisa menghidupkan denyut nadi ekonomi.

Aku punya produk ini, kamu punya produk apa dan butuh apa?
Bayangkan bila ada 100 orang berkumpul suatu hari di suatu tempat yang sama dan tiap orang saling menunjukkan apa yang mereka punyai dan apa yang merea inginkan/ butuhkan, maka secara isntan sudah tercipta pasar dadakan.

Saat ini, banyak yang membuat pasar, membuat ruko ruko dengan biaya milyaran, pusat perbelanjaan dengan biaya trilyunan yang di dalamnya menyediakan banyak kavling kavling siap pakai yang bisa digunakan untuk dodolan alias jualan. tetapi pertanyaan nya adalah, siapa yang mampu menyewa atau bahkan membeli bedak bedak dan kavling kavling dengan biaya sewa puluhan juta rupiah per bulan itu?? Tentu saja bukan pedagang kecil, tetapi kaum berduit dan pedagang besar yang itu itu saja yang akan mampu menyewa dan "menggurita" kan bisnisnya di tempat tempat seperti itu.

Fakta lain, dengan skala yang lebih kecil, penyelenggara negara ini juga sepertinya berupaya membuat pasar yang terkesan modern, dengan membangun bedak bedak dan bangunan permanen yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah (dari pajak yang anda bayarkan tiap beli pulsa handphone, dll) 

Dan karena sudah permanen, bangunan pasar itu dibikin permanen, maka hanya kaum tertentu saja yang mampu menyewa atau membeli tempat jualan tadi. Alhasil banyak "THE REAL PEDAGANG", pedagang yang bener bener pedagang dan bener bener menggantungkan hidupnya dari berdagang di pasar harus tergusur karena tidak mampu membeli / menyewa tempat. akhirnya mereka memilih menyingkir atau banting stir ke model lain atau mata pencarian yang lain.

Di lain pihak, para pedagang yang mampu menyewa pasar tadi, dengan sangat terpaksa, karena agar sewa bedak dan harga beli bedak cepat tertutup, mereka menaikkan margin keuntungan., Akhirnya barang barang yang dijual di pasar rakyat tadi tidak bisa bersaing lagi, karena dijual dengan harga yang sudah agak mahal, karena ada beban sewa bedak dll).

Harga yang kurang kompetitif ditambah kondisi pasar yang juga kurang kompetitif dibanding pasar modern oleh peritel peritel raksasa asing, membuat para pembeli lebih cenderung memilih ke tempat lain dibanding pasar tradisional.
 Result akhirnya adalah pasar tadi akhirnya sepi, tak ada pedagang yang mampu dan mau menghuni pasar tadi. salah siapa?

Tentu saja bukan salah siapa siapa,  ( bersambung )

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...