Saturday, 13 September 2014

Pemuda harus dibangunkan!

Pemuda harus dibangunkan!

Tahun depan, mau tidak mau kita harus siap dengan Asean Economic Community, atau AEC. Tepatnya akhir 2015 nanti kita harus siap head to head dengan penduduk ASEAN untuk berebut dan berkompetisi. Berkompetisi dalam bidang produk, dan pengadaan jasa, baik tenaga kerja maupun produk berbentuk jasa.

Mengapa kita dan bukan hanya mereka? Pembentukan pasar tunggal AEC ini akan memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Ini mau tidak mau akan mempengaruhi kita, termasuk para pemuda yang jumlahnya sangat banyak, yaitu fakta bahwa rata rata penduduk dunia 25%-nya adalah usia muda (16-24 tahun). Ini belum termasuk usia produktif di Indonesia yang rentangnya adalah usia 15-64 tahun.

Tingkat persaingan yang tinggi ini, ditunjang dengan fakta bahwa kita adalah pasar terbesar, kita harus menyiapkan "strategi perang" agar bisa bertahan ataupun menyerang lawan dalam kancah AEC yang sudah dekat ini.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa langkah awal dari peperangan ini adalah mengetahui dan mapping kekuatan lawan, dan kekuatan diri sendiri.



Populasi negara ASEAN
(source:  geraidinar)


Alih alih sebagai pembukaan pasar baru bagi kita, sebenarnya bila melihat pie chart diatas terlihat bahwa sebenarnya AEC ini justru sebagai ancaman , mengingat kita adalah pasar terbesar, yang menguasai 41% populasi seluruh ASEAN.

Sebagai ilustrasi, awalnya, kita adalah pasar domestik dengan luas 100% kue pasarnya, dan saat nanti harus rela berbagi dengan negara lain. sehingga pendek kata, dengan bergabungnya kita dengan AEC, kita "harus merelakan" lebih dari 250 juta populasi kita terbuka dan bebas dimasuki barang dan jasa, di sisi lain kita akan menerima tambahan "pasar baru" dari 9 negara ASEAN lainnya, yang bila ditotal jumlahnya adalah 59% pasar baru terbuka. Ini terlihat jomplang dengan kondisi negara negara tetangga yang relatif sangat diuntungkan dengan adanya penambahan pasar yang sangat besar, tengok saja seperti malaysia, dengan AEC ini akan mendapatkan penambahan pasar baru mencapai 95%!



Dilihat dari GDP, kita juga merupakan raksasa di wilayah ASEAN.  Dengan GDP sekitar US$ 868 Milyar, kita adalah entitas raksasa dengan cakupan 36% dari sepuluh negara ASEAN yang mencapai sekitar US$ 2400, jauh diatas peringkat kedua GDP terbesar yaitu Thailand, di angka sekitar US$ 387 Milyar! Kita adalah pasar terbesar dan raksasa di wilayah ASEAN.

Lantas, apakah kita akan mundur dengan akan membanjirnya pemain asing untuk merebut kue di negara kita? Tentu tidak! Yang harus kita amankan pertama adalah fakta bahwa pasar terbesar kita justru negara kita sendiri. Pasar terbesar kita adalah populasi terbanyak penduduk negeri ini, yaitu angkatan mudanya. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri!

Angkatan muda ini harus dibangunkan agar tidak hanya menjadi pasar bagi negeri lain, tetapi juga menjadi agen pemasar dan agen peubah bagi daerahnya masing masing. Menutup kekurangan kekurangan yang ada di daerah daerah lain, dan memaksimalkan potensi yang ada di daerahnya.

dengan teknologi informasi saat ini, buakn hal yang sulit untuk memetakan potensi dan defisiensi tiap tiap daerah sehingga potensi tersebut, demand tersebut bisa dipenuhi oleh rakyat sendiri, pemuda pemuda negeri sendiri.

Kebutuhan kebutuhan pakan ternak impor, pupuk impor, buah impor dll salah satu contoh peluang yang bisa digarap dan kemudian ditutup dan ditambal secapatnya menjadi sumber pendapatan baru.

Saat ini tidak sedikit sebagai contoh, pemuda pemuda yang sudah concern dalam bidang pertanian dengan menggunakan sistem teknologi informasi sebagai upaya optimalisasi tanam dan pasca panen.

Tenaga tenaga muda penuh energi ini harus segera bangun dan dibangunkan untuk memaksimalkan potensi daerahnya. Salah satu caranya adalah dengan mempromosikan potensi yang ada di daerahnya dan membuat inovasi inovasi untuk memaksimalkan potensi. Gudang informasi tentang inovasi yang bertebaran gratis di dunia internet menjadi salah satu pilihan yang bisa digunakan.

Contohnya dengan kebiasaan penggunaan sosial media di masyarakat, seharusnya teknologi viral marketing yang dengan mudah mem'pull' market bisa digunakan dengan adanya media sosmed yang telah banyak digunakan, semisal fb, twitter, bbm, dsb untuk menjual potensi daerah, produk ataupun ide.

Para pemuda harus mulai sadar bahwa banyak hal yang bisa dikerjakan. Mereka harus menjadi asset, dan bukan liabilities.  Bekerja dengan passion nya, tanpa harus terbelenggu ijazah yang dimiliki.

Pembuat keputusan dan regulator pun harus mulai berfikir untuk memberikan insentif bagi para muda yang tekun menggerakkan sektor riil, pihak swasta juga terus didorong untuk meningkatkan program CSR dan pemberdayaan sekitarnya untuk mendorong munculnya wirausaha wirausaha muda yang akan menciptakan lapangan kerja baru, sehingga Clogged labor market atau kebuntuan pasar tenaga kerja menjadi menurun prosentasenya.



Dengan program program pemberdayaan sekitar tersebut, sejatinya pihak swasta juga secara tidak langsung sudah membangun dan memperkuat pasar bagi produknya, memperkuat posisinya di lingkungan dan menambah akselerasi produksi dan kinerja perusahaan.

Sebagai contoh, sebuah bank swasta yang berhasil membangun lingkungan sekitarnya dengan program CSR, akan membuat pasar baru yang mau tidak mau nantinya memerlukan sentuhan perbankan, dan ini adalah PASAR!

Jadi, kalau tidak sekarang , kapan lagi?




2 comments:

benar sekali, menjelang 2015 kita harus bisa bersaing bahkan kalau bisa jadi penguasa di negri sendiri

#copas.. Para pemuda harus mulai sadar bahwa banyak hal yang bisa dikerjakan. Mereka harus menjadi asset, dan bukan liabilities. Bekerja dengan passion nya, tanpa harus terbelenggu ijazah yang dimiliki. SETUJU!!! salam kenal mas https://www.facebook.com/agusnurwantomuslim

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...