Thursday, 11 September 2014

Menabung untuk Menolong Tetangga


gb. ilustrasi. kaskus
Menabung untuk Menolong Tetangga

Saat kecil, kita mungkin pernah punya celengan dari tanah liat, yang bentuknya bermacam macam. Ada yang bentuknya buah waluh, bentuknya macan, ayam dan binatang lain. Besarnya pun bermacam macam, tergantung harganya.

Dulu, disekolah pun diajari untuk selalu menabung, karena ada pepatah, siapa menabung, pasti beruntung.

Orang tuanya pun menabung dalam bentuk barang, seperti lembu/sapi, kerbau, kambing dll. Tabungan paling ringan yang dipunyai petani adalah ayam. Saat anak-anaknya pingin uang untuk membayar sekolah misalnya, orang tuanya menjual ayam ayamnya ke pasar. Mereka pegang uang secukupnya saja. Mereka pegang barang yang likuid di jamannya, berupa ayam, telur dan komoditi rumahan yang mereka punyai. Bilamana anak anaknya minta sepeda angin, tentunya si bapak tak cukup hanya menjual ayam, para orang tua pun menjual kambing yang mereka punya, yang tentunya harganya cukup untuk meng cover kebutuhan membeli sepeda. Bilamana mereka akan perlu uang yang lebih besar, mereka jual kerbau yang mereka punyai. Menabung pun di rumah, pake celengan dari tanah liat itu tak perlu takut kena biaya atm, biaya administrasi dll.

Sekarang jaman berubah, orang orang sudah cukup ribet untuk memelihara ayam, kambing apalagi sapi. Tentu saja alasannya bukan semata karena tak cukup lahan, tetapi ada yang lebih likuid lagi, yaitu uang kertas. Mereka lebih seneng bawa uang kertas, daripada harus nenteng ayam, pelihara kambing atau sapi yang harus ribet kasih makan, kemungkinan mati dll.

Mereka saat ini lebih nyaman menggunakan lahan nya untuk dibuat kos kosan, dibangun toko atau dibangun rumah lagi.
Orang sekarang juga sudah tak mau lagi mewujudkan uangnya dalam bentuk asset, mereka lebih percaya dan senang dengan iming iming hadiah undian dari bank bank penerbit produk tabungan, sesekali mereka dibuat senang setahun sekali dengan suku bunga tabungan yang tak lebih dari 1% per tahun.

Kata teman sekarang yang dibutuhkan adalah kemudahan, kemudahan mengambil uang. Ya,, ya kemudiahan untuk selalu belanja dan antri di ATM, kemudahan untuk memberikan fee ATM kepada bank pemilik ATM, kemudahan kemudahan yang harus dibayar juga dengan biaya. Tak ada yang namanya mudah tanpa biaya.

Tarik tunai, transfer uang, cek saldo, Transaksi gagal dsb, yang harus membutuhkan uang dan men debit jumlah uang di tabungan.
Belum lagi pajak Pph yang mensyaratkan  harus rela membayar 20% bunga deposito atau tabungan bila melampaui 7,5 juta rupiah.

Di saat yang sama, ada tetangga yang satu gang, punya gerobak dorong dagangan bakso, perlu modal 500 ribu rupiah , bingung cari utangan. Akhirnya si tetangga ini meminjam lewat rentenir yang lewat depan rumah, dengan tanpa agunan pun langsung cair hari itu juga. Pinjam 500 ribu, nerima bersih 450 ribu dan harus mbalikin 600 ribu dicicil 10 kali.

Padahal, bila mau bersinergi, si kaya tetangga yang suka nabung di bank tadi, cukup meminjamkan 500.000 nya ke tetangga yang membutuhkan agar bisa berjalan usahanya.

Toh, tabungan di bank, dana murah masyarakat yang diserap dari para penabung ini, tak disalurkan ke pedagang kecil yang tidak bankable, tak punya agunan dan pinjam hanya jumlahnya ratusan ribu.

Mari kita hitung, bilamana si bapak kaya ini punya tabungan 50. juta di bank, dengan alasan kemudahan tadi., Taruhlah bank mau memberikan bunga 2% setahun , maka akan ada bunga sebesar 2% x 50.000.000 =  1.000.000

, eiits jangan seneng dulu, bank juga menarik biaya administrasi, yang besarnya bervariasi, taruhlah kita ambil salah satu bank terkenal di negeri ini, yang men charge 13.000 per bulan, maka biaya administrasi tadi akan berjumlah :

13.000 x 12 bulan = 156.000

Pph 20% karena jumlah tabungan lebih dari 7,5 juta rupiah, yaitu:

1.000.000 x 20% = 200.000

Total bunga bersih yang didapat ( bilamana tidak pernah mengambil uang di ATM bank lain, dan tabungan nggak diapa-apain) :

1.000.000 – 156.000 – 200.000 = 1.000.000 – 356.000 = 644.000 setahun
ini berarti sebulan mendapat bunga bersih :

644.000 : 12 bulan = 53.666 ~ dibulatkan 54.000 rupiah sebulan.


Bagaimana bila si bapak ini mau meminjamkan uang 500.000 nya, dan menyisakan uang nya di tabungan tinggal 49.500.000 rupiah?? tentunya jumlah keuntungan yang didapatkan nya akan lebih dari hanya sebesar 54.000 rupiah sebulan, plus mendapat pahala dan kebaikan telah menolong tetangganya.

Makanya, di Islam, dianjurkan untuk tidak mengendapkan uang dan kekayaan pada satu orang saja, sebaiknya kekayaan itu diputar di sektor Riil, agar manfaatnya banyak bagi banyak orang. Ibarat air selalu mengalir , sehingga kebaikannya akan terpancar darii semua saluran yang dilaluinya.
Sebaliknya, air yang menggenang, bial semakin banyak dan banyak, selain mendatangkan nyamuk, juga bisa membuat tanggul jebol.

Selamat menabung

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...