Saturday, 9 February 2013

Saya suka daging sapi mahal!


Saat ini (banyak) orang yang menjerit karena harga daging sapi yang mahal. Penyebabnya, kata banyak orang adalah karena minimnya pasokan dari dalam negeri dan juga kuota ekspor yang tahun ini dibatasi hamper separuh dari tahun sbelumnya. Pembatasan kuota import daging sapi ini membuat Amerika dan Australia berang akhir akhir ini dan berencana membawa Indonesia ke WTO untuk digugat. Saya nggak akan membahas efek pulitik dari daging sapi ini, saya akan ngemeng ngemeng ringan tentang efek daging sapi, di kacamata saya, seorang pengemar kopi pinggir jalan di magetan, karena harganya cumin seribu ruoiah untuk secangkir kopi nikmat dengan cangkir unik yang gagangnya sudah tak ada.

Kembali mbahas tentang daging sapi. Saat ini harganya sudah mencapai 120 ribu per kilogram (katanya). Semua orang menyalahkan pemerintah, ditambah lagi dosa dosa pemerintah yang sudah bejibun (katanya).
Sebenarnya, siapa sih yang mengkonsumsi daging sapi? Mungkinkah kalangan menengah kebawah rutin makan daging lezat yang acap muncul di hari raya idul kurban ini? Jawabnya : pengkonsumsi daging sapi hanyalah orang orang yang tentunya sanggup membayar harga mahal daging tersebut. Berarti yang nggak mampu, minggir dulu.

Kebijakan import daging sapi seharusnya hanya bersifat insidentil dan berlaku sangat terbatas. Karena bila harga daging sapi naik pun, yang menikmati juga para rakyat yang lebih luas dan banyak di negeri ini. Ketika harga daging sapi naik, maka para peternak bisa senang dan bergairah memelihara sapi, karena harga jualnya bagus. Efek lainnya, pakan ternak dari buangan limbah penggilingan padi juga laku, usaha hilir dari daging sapi juga makin bergairah. Dan tentunya uangnya nggak bocor begitu besar untuk hanya ingin “menurunkan harga daging” dengan membeli daging luar negeri dengan metode import.
Ketika harga daging sapi turun karena import yang merajalela, saya masih inget di desa saya rang orang ogah memelihara sapi, industri kulit kelimpungan mencari bahan baku, dan uang begitu besarnya langusng terkirim dan masuk ke kantong para importer yang hanya segelintir dan masuk juga ke peternak asing yang ada di Australia dan amerika. Untuk mengajak mereka memelihara sapi lagi perlu waktu yang nggak bisa cepat.
Beda jika para penikmat daging sapi ini mau bersabar sebentar untuk menikmati harga daging yang wajar. Harga daging yang wajar sebenarnya akan mengikuti hokum pasar. Ketika harganya tinggi, maka para penyedia akan berlomba lomba memelihara sapi  dan memberi pasokan . Ketika semua tertarik dan pasokan melimpah, maka harga akan turun, sampai harganya setimbang lagi.

Toh, kalaupun harganya melambung saat ini, uangnya akan berputar di dalam negeri, dinikmati oleh saudara setanah air, dan tak masuk ke kantong kantong importer dan peternak asing. Dan daging sapi bukanlah makanan pokok, ketika harganya sudah tak wajar, tak akan mengganggu ketahanan pangan kita. Bila sudah tak wajar dan selangit, maka penikmatnya akan beralih, dan permintaan akan menurun sehingga harganya pun akan ikut turun.

Masdhenk[saat hujan di magetan]

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...