Wednesday, 25 July 2012

Seberapa kuat kamu di lembah kematian??



Mengukur keadalam vs. bertahan di lembah kematian/ valley of death

Mumpung momennya puasa kisanak, kita ngomong ngomong tentang daya tahan, ya daya tahan kita.
(-) lhah, puasa puasa kok malah nggak mbahas faedah puasa dan tetek bengeknya pakdhe, kok mbahas ginian?
(+)hahaha, lha yang masalah begono sudah banyak yang nayangin kok thole, tipi tipi dah kebak dengan hal hal itu demi rating dan tirasnya ( untuk media cetak).

Kembali ke daya tahan, kali ini saya akan membahas hal yang remeh temeh tentang lembah kematian atau palley op deth ( valley of death).

Dalam dunia bisnis, ihwal palley op deth ( seterusnya akan saya singkat POD) sangat luas dikenal, dan bahkan sejak di bangku kuliah bisnis pun sudah dikenalkan. Lembah kematian ini adalah ceruk dimana keadaan kita sedang dalam keadaan terpuruk, kondisi keuangan lagi minus, sales belum menunjukkan hasil dll. Keadaan ini biasanya terjadi di awal awal usaha, saat awal awal nge-launch product dsb.

Pada dasarnya, semua oknum yang berwirausaha pasti mengalami siklus ini, bahkan oknum wirausahawan yang ternyata belum mengalami ini, niscaya pasti akan mengalaminya :)

Ada banyak model bisnis yang digeluti oleh para calon miliarder miliarder itu, mulai usaha rill maupun semi riill. Banyak yang gulung tikar dan layu sebelum berkembang di tengah jalan, give up dan kembali ke track jalan lurus untuk nerima gaji bulanan dan kembali menjadi pegawai

(-) eitts, pakdhe, kok masih mendikotomikan antara pegawe dan non pegawe toh?
(+) wee lah, nggak kok thole, hanya memberikan contoh, banyak kok pengusaha sukses yang dulunya juga pegawai, dan ada juga banyak pegawai yang sukses melebihi pengusaha. Sekedar contoh kan gpp toh le?

Kondisi di POD ini memang tak mengenakkan, kadang hanya intuisi yang kuat yang membimbing kita untuk terus di track usaha yang kita jalani, atau menyuntik mati usaha kita itu.
Kalo saya justru menanyakan kepada ente-ente, sebarapa tahankah di palley op deth itu, itu yang menentukan berhasil tidaknya usaha kita.

Mengapa saya yakin akan peran “daya tahan” mengahadapi saat saat di POD ketimbang “intuisi” ? Ya karena intuisi kita terkadang memberikan output yang kurang bagus karena memang belum terasah untuk ikut menentukan apakah kita quit form the game atau stay alive.

(-) kok gitu pakdhe?

Iya, karena pakdhe yakin akan petuah ala semar di pewayangan yang telah terbukti , bahwa dimana ada cekungan, pasti seteah itu ada momen naik, momen dimana kita menuju keatas, meninggalkan fase POD/ lembah kematian tadi. Dan saat kita berada diatas puncak, pasti akan ada momen “turun” dimana kita harus kembali turun dari puncak tersebut.

Kalau bagi kaum beragama pun, ditegaskan bahwa saat saat dimana kita dalam keadaan sangat-sangat terjepit, maka sebenarnya saat itu kita sudah sangat dekat dengan pertolongan Alloh yang akan menaikkan kita dari lembah kematian atau palley op deth tadi.

Kesabaran kita dan daya tahan kita sangat dibutuhkan saat kita dalam cekungan POD. Kemampuan mengelola POD mutlak diperlukan bagi kita untuk tetap bisa mencapai posisi diatas lembah kematian.

Teori dan konsep ini juga sangat manjur untuk semua dari kita yang kebetulan terpuruk, dalam kondisi rugi, nggak bagus atau hancur lebur atau dalam kondisi miskin.

Percayalah, yang harus dilakukan adalah bertahan untuk kemudian naik meluncur keatas menjauhi siklus lembah deth op palley tadi. Siklus adalah siklus dan berlaku niscaya, saat anda masih di lembah, pasti akan saatnya naik, dan bagi yang sedang di posisi atas, berhati hatilah, momen penurunan juga terus membayangi. Yang sedang mngalami deth op palley bersabarlah dan riang gembiralah karena anda sedang menyambut posisi puncak anda, ya persis seperti kurva, ada naik dan ada turun, dan bila saat ini turun, pasti kemudian akan naik dan sebaliknya.

Apakah anda pernah naik gunung, kisanak?


magetan. 6 ramadhan 1433 H/26 jul 2012
masdhenk

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...