Monday, 16 July 2012

Menyetir mobil sendiri = Pelit

Menyetir sendiri= Pelit?

Menyetir mobil sendiri bisa bermakna banyak. Bagi yang sirik pasti mengkaitkan nya dengan kepemilikan. Berarti bila (contohnya) masdhenk menyetir mobil sendiri diartikan “menegaskan” bahwa sekarang sudah punya mobil sendiri dan bukan mobil pinjaman.

Bagi orang yang bukan sirik tetapi menomor-satukan identitas kepemilikan pasti akan menggaris bawahi kata mobil sendiri. Nah saat ini saya tak akan membahas masalah kepemilikan, saya justru menggaris-bawahi kata-kata “menyetir mobil sendiri” ( dalam arti tanpa menggunakan sopir pribadi).

(-) kenapa sih masdhenk repot repot mbahas nyetir mobil sih?

(+) wahahaha, nggak repot kok, cuman cerita pengantar minum teh saja ini kok J

(-) yowes klo begitu, monggo dilanjut

Nah, urusan menyetir mobil sendiri ini kemaren menjadi rasan-rasan di kalangan ibu-ibu arisan, yang kebetulan ikut ngopi di samping rumah.

“Jueng, itu si anu itu, kok pelit banget sih, nggak pake sopir, wong mampu beli mobil mewah bil ap gitu kok setir sendiri?

“iya ya, masa nggak mampu mbayar sopir sih?

“ah, dia kan memang mau pamer, biar dikira mama mandiri yang kemana-mana sendirian”

“jangan gitu jeung, berarti memang dia dah habis uangnya buat beli mobil itu, jadi nggak mampu buat bayar sopir”. Diselingi cekikian khas suara kuda.

Dan masih banyak lagi celetukan yang intinya ngrasani si pemilik mobil dengan judul, menyetir mobil sendiri.

Lalu setelah saya pikir-pikir, menyetir mobil sendiri juga suatu keasyikan tersendiri, karena kita nggak perlu panggil sopir, apalagi klo punya istri cantik dan kita harus ngantor sementara dia pengen pergi ke mall. Nggak rela rasanya diantar oleh sopir ( kwkwkwkw). Aapalgi acara itu ketesrusan dan menjadi rutinitas, ajang curhat “dapur sendiri” Nah berabe khan?

Tapi dilain sisi, menyetir mobil sendiri juga sangat berbahaya, karena kita klo ngantuk nggak bisa tiduran sambil nyetir, dan yang jelas tak “membagi rejeki “ dengan orang lain yang bisa nyetir dan meng”hire” mereka agar jadi sopir kita.

Bayangkan, bila kita menggaji sopir pribadi, kemudian uang itu untuk hidup keluarga kecilnya yang ada anak dan istrinya, kita menjadi semacam kran rejeki bagi mereka.Mereka bias makan dan menyekolahkan anak-anak mereka dari kemurahan gaji dari kita, Luar Biasa itu. Pahala buat kita.

Jalan tengah nya adalah saat letih dan perjalanan jauh, ada baiknya kita jangan menyetir mobil sendiri, mending pake sopir karena kita nanti malah capek dan berubah jadi sopir, bukan lagi ayah atau abi nya anak-anak yang harus ikut ceria menemani istri dan anak-anak sampai di tujuan. Nah saat saat yang rute pendek, sepertinya lebih nyaman menyetir mobil sendiri, tapi ingat jangan sambil tiduran, apalagi membalas BBM temen-temen ngrumpi di blekberi kesayangan.

Tapi bila masih ada gunjingan sana-sini, biarin saja, toh mereka juga nggak mau klo kita suruh jadi sopir kita. kan Menyetir sendiri bukan = pelit kan.

Trus, apakah hari ini anda sudah menyetir mobil sendiri, kisanak?

3 comments:

hihihi nice post mas.. saya org yg tiap hari (terpaksa) harus menyetir mobil sendiri, utk mengantar jemput anak sekolah, belanja kepasar, dan urusan IRT lainnya. but actually i dont like driving at all! saya benci menyetir, saya tipe yg suka disupirin tp karna kebanyakan supir pribadi adalah laki2 saya kurang nyaman dan risih berjam2 berinteraksi dgn lelaki lain dan saya tidak suka dgn perasaan ditunggui org, karna pakai supir pasti kemana2 sama dia dan ditungguin. suamiku sih udh pakai supir dan cukup dia aja. biar deh saya capek dikit.. ttg omongan org, i never care what other might think of me. hihihi

haha, iya jadi inget bu Kiki yang selalu tanguh ke kampus sendirian!! mantaab!

Dilema juga, tapi yaa gak gitu juga sih, masa cuma gara-gara gak pake sopir dibilang pelit? Pasti ada alasannya. Entah memang biar gak ada "orang ketiga diantara kita" *halah*, ingin mandiri, atau memang belum perlu..

Tapi emang biasa sih, orang sirik selalu punya alasan untuk menggunjing :)

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...