Thursday, 7 June 2012

Penyatuan Zona Waktu Indonesia Tak Berguna ?



Saya orang yg awam dengan pertumbuhan ekonomi, percepatan pembangunan dan data data mbuleti yag disodorkan dengan persentase persentase menjadi semakin bingung bila ahrus membaca lagi keuntungan keuntungan bila kita MENYATUKAN ZONA WAKTU Nasional, yg digagas oleh para orang pinter dimari.

Yuk kita lihat bila kita sedang menggunakan waktu yg sedang kita pakai sekarang, yaitu WIT, WITA dan WIB. Saya hanya membandingkan apa yang akan saya alami jika ini semua terjadi.

Saat ini :

1. Saya kebetulan di WIB, dimana jam 6 pgi masih sangat pagi, anak saya yg TK kadang bangun jam 6 pagi, subuh disini saat ini jam 4.30 pagi hari.,

2. Pada keadaan lain, di jayapura orang masuk kantor pemerintahan jam 7.30 pagi, dan itu matahari sudah keluar agak tinggi disana, persis pada jam 7.30 WIT pagi di Jayapura, itu berarti saat dimana di Aceh jam 5.30 WIB pagi, waktu yang masih agak gelap., dan jam 6.30 WITA di palangkaraya.

Bila waktu diubah menjadi WITA semua, atau GMT +8 ( katanya agar kita ndak ketinggalan saat buka bursa efek dan bisa seperti negeri tetangga, Singapura dan Msia :

1. Karena kita ikutan jam di palangkaraya dsk , atau WITA, maka saat berangkat kerja di Palangkaraya, yaitu jam 7.30 WITA, berarti di WIB sejatinya baru jam 6.30 ( masih sngat pagi di ACEH, Medan dan Jakarta) dan di WIT sudah jam 8.30 WIT ( waktu di jayapura, sudah beranjak siang),

2. Saat pulang kerja, karena kita sedari awal di doktrin agar penyatuan WAKTU Indonesia ini untuk kebersamaan, saat pulang krja jam kantor saat ini di Palagkaraya adalah jam 5. Sore WITA, saat bersamaan berarti jam 6 Sore di Jayapura dan jam 4 sore di Aceh

3. Toh kalo alasan pemerintah agar kita bisa serempak bekerja barengan, maka ada 2 kerugian yag terjadi, di bagian barat Indonesia ( Aceh, Medan dsk) orang akan berangkat kerja kepagian, masih sangat sangat pagi betul, dan di belahan paling timur Indonesia, orang akan berangkat kerja terlalu siang dan pulang kerjanya nanti akan masih terlalu siang juga.

4. Dari segi hemat energy jelas sangat tidak hemat, di belahan barat Indonesia, orang akan berangkat lebih pagi satu jam dari biasanya, orang Jakarta yg biasa berangkat dari Depok jam 5.30 pagi saat ini ,maka harus berangkat setelah sholat subuh, dan orang orang di jayapura dan Indonesia bagian timur akan berangkat terlalu siang, Penggunaaan lampu menjadi makin boros karena di Jakarta, orang harsu lebih pagi memulai aktiviatsnya, menyalakan lampu lampu dsb lebih awal karena masih terlalu gelap. Dan yang paling penting nantinya di JAKARTA, Kemacetan akan menajdi semakin pagi J

Ide penyatuan waktu ini menurut saya yang seorang penjual gorengan ini, hanya sebuah proyek pencantuman nama di akhir periode, agar tercatat dalam sejarah. Ingat, bentang alam Indonesia memang panjang, sehingga memang sudah secara alamiah harus memiliki 3 zona waktu, sepetrti Amerika.

Penyatuan zona Waktu dengan alasan bahwa kita selalu tertinggal saat pembukaan bursa efek, menurut saya adalah alasan yang simple untuk dipecahkan, sperti ide pak JK, mending jam masuk di bursa yang hanya mempekerjakan 2000an karyawan itu dimajukan atau dimundurkan, disamakan dengan waktu bursa yang dikehendaki, bukan dengan mengorbankan ritme kehidupan 230 juta manusia Indonesia, hanya untuk mengakomodasi pembukaan bursa!

Dan yang paling penting, penyatuan zona waktu tentunya akan memakan biaya yang tak sedikit, dan apakah itu sudah difikirkan?? Apa nggak ada hal yang lebih penting selain ngurusi hal yang sudah tertata? Mengobrak abrik jadwal saya menjual gorengan saja J

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...