Saturday, 22 October 2011

Makan di Mc D lebih ISLAMI daripada di Warteg!



Aku baru aja nyadar, klo saya harus menunaikan kewajiban tubuh saya untuk makan.
perut udah kemrucuk, lapar. Aha, ternyata dah tersistem di tubuh, bahwa jam sekian harus makan dan kemana perginya pun seperti biasa, warteg!
Yah… warung murah meriah ini selalu membuat saya merasa aman, aman karena  nggak akan tercekik oleh harga harga makanan di kota ini yang sudah saya rasa mahal banget, yah mahal buat ukuran mahasiswa seperti saya.
Dan kenapa saya memilih warteg, yah karena semata mata lidah saya belum terbiasa makan makanan di tlatah jayakarta ini, padahal sudah hampir 2 tahun, hah?
Di warteg, ketemu temen seangkatan yang selalu ketemu di warteg, yah karena sama sama senasib, senasib kantongnya, seperti itu kiranya.
Tapi kali ini, pemandangan agak aneh terlihat dari temen satu ini…,
Menunya sama , pilihan lauk pauknya juga sama ndak ada perubahan bila tanggal tanggal segini, walau kita kita juga ndak minta ortu untuk makan, kuliah dan hidup di jayakarta ini, tetapi selalu ngirit  hahaha.
Sekarang teman satu ini selalu mendahulukan mengulurkan tangannya ke penjual warteg, ndak seperti saya yang harus menunggu sampai makanan dan minuman tandas , baru ke meja kasir yang ndak ada mejanya, kemudian membayar sejumlah uang pengganti makan tadi.
Karena penasaran, saya tanyalah si teman, dan ternyata, jawabanya singkat!
“Setelah kupikir- pikir, makan di warteg nggak lebih ISLAMI daripada makan di Mc D , alias Mc Donal, alias mek di, yah warung makanan cepet saji berbendera amerika yang banyak bertebaran di kota ini.”
Kesimpulannnya, makan di Mek Di lebih islami ketimbang makan di warteg. Lanjut dia.
“tetapi kenapa ente masih makan juga di warung rakyat ini?”
“Yah, tentu saja tetaplah, siapa lagi yang akan melestarikan uangku dan isi kantongku yang nggak tebal-tebal amat ini terkecuali menu menu di warteg ini, tentunya dengan sedikit perubahan” Timpal dia.
“Trus”?
“Yah, perubahannya, biar makan di warteg lebih ISLAMI, aku harus membayar uang dulu , sebelum memakannnya habis. Seperti di Mek Di, makan, pesen dulu, bayar baru dimakan. Lebih Islami teman”
“Jadi ketika nanti ada bencana gempa, aku mati tiba tiba dan lain sebagainya, aku udah nggak punya lagi utang makan sepiring nasi” cerocos dia.
“Oooh”, begitu selorohku singkat
*gambar diambil dari sini images

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...