Wednesday, 10 August 2011

Bank Bohong dan Monyet


“Pakdhe ,Apa benar bank membohongi kita dengan menerbitkan uang kertas?”

Ada pertanyaan menarik seperti diatas yang ditanyakan pada saya, saya dengan males malesan menjawab, ya dan tidak, mengapa? Ini dongengnya ::

Dahulu kala, orang saling menukar barang yang dimilikinya dengan barang yang ingin dia punyai.

Contohnya pak samin ingin lima karung kelapa, dan dia ingin menukranya dengan seekor kambing. Nah, kebetulan pak Sandemo punya kambing dan ingin punya kelapa buat masak di rumahnya. Akhirnya mereka sepakat menukarnya, . Ini terjadi pada banyak jenis barang dan ini dikenal sebagai barter.

Lama kelamaan, karena kurang praktis, saling tukar menukar barang, berat dan nggak enak dipandang. Makanya akhirnya menggunakan emas dan perak. Ingat kan pelem pelem China itu yang semua barang dihargai dengan emas dan perak?, nah itu dilakukan karena logam emas dan perak memiliki keunggulan, yaitu nggak bisa dibuat dan memang jumlahnya sedikit alias susah mendapatkannnya/ terbatas.

Karena ternyata membawa uang emas dan perak nggak praktis, makanya pemerintah bilang ke para penduduk, bahwa mereka telah membuat secarik kertas yang ada gambar monyet, gambar padi, gambar kambing dll yang harganya sama dengan emas yang sekarang dibuat jual beli. Contohnya suatu pemerintah lewat bank nya menerbitkan kertas ( yang akhirnya dinamai uang kertas) yang ada gambar monyetnya, dinyatakan bahwa selembar kertas bergambar monyet sama dengan satu keping emas, jadi bila Pak Samin pingin membeli sapi dengan 3 keping emas, pak samin tinggal membayarnya dengan 3 lembar kertas yang bergambar monyet tadi, yang dikeluarkan oleh bank.

Trus bagaimana dengan pak sandemo agar mau menukar sapinya dengan “hanya” 3 lembar kertas? Nah peran pemerintah yang meyakinkan pada pak sandemo, pemerintah/bank bilang gini :

“tenang pak Sandemo, uang kertas 3 lembar bergambar monyet itu diakui Negara kok, harganya sama dengan 3 keping emas, dan bila suatu saat pak sandemo ingin menukarnya dengan emas, kami punya, ada di bank sebagai jaminan.”

Nah, statement diatas adalah perjanjian bretton woods, dimana tiap kali bank mencetak uang kertas, bank harus mempunyai cadangan emas sesuai dengan jumlah emas yang digantikannya., relative adil kan?

Nah, masalahnya ketika manusia rakus, mereka nggak lagi melihat cadangan emas di bank, dan bank [un juga nggak mau tahu, yang penting tanpa menyediakan emas seperti yang dijanjikan pun, tiap kali mereka menerbitkan uang kertas seharga emas pun nggak ada yang complain, dan perjanjian bretton woods tadi dihapus.

Padahal, ini akar dari masalah ketidak berdayaan uang kertas menahan inflasi, karena manusia makin rakus dan nggak ingat lagi akan aturan yang dibuat sendiri.

Jadi, sekarang, bila kisanak mau menukar uang kertas yang gambarnya monyet bertuliskan 100 USD, maka akan masih bisa untuk membeli emas murni satu gram dan masih ada sisa, tetapi 10 hari lagi ( mungkin), kisanak harus menyediakan uang kertas gambar monyet bertuliskan USD 100 untuk bisa menebus satu gram emas murni dan tanpa ada kembalian lagi.

Dan karena mencetak uang kertas gambar monyet itu lebih gampang ketimbang menambang emas satu gram, maka negerinya Paklek Sam dan negeri negeri lain lebih senang mencetak kertas dan menukarnya ( kepada siapa saja yang mau) dengan emas dan perak, minyak mentah dan bahan bahan mineral lainnnya.

Nah, sekarang saat orang orang tahu bahwa mereka mulai dibohongi, mereka akan berduyun duyun ke instrument bernama safe haven berwarna kuning yang bernama emas., Padahal hal ini nggak akan terjadi bila para pemegang uang kertas tadi yakin dan diyakinkan bahwa setiap lembar uang kertas bergambar monyet itu ada emasnya, ( seharga emas yang disimpan oleh si bank pembuat uang kertas).

hehehe, udah ah, ndongengnya, kalo ada yang kurang jelas, sila hubungi saya , ketik bintang99pagar, akan saya balas langsung lewat hempun saya * iklan bohong inih

Apakah hari ini sampeyan makan sahur, kisanak???

2 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...