Thursday, 7 July 2011

Apakah Anda sudah Membayar, kisanak?



Tadi, saat ke kampus, kebetulan saya membaca tulisan di kaos seorang mahasiswa yang bareng naek bis kuning menuju fakultas yang berbeda. Isinya tentang penghargaannya terhadap Negara idola para koruptor dan atau juga disebut sebagai Negara penampung koruptor tetangga kita, yaitu singapura. Isinya ternyata bukan tentang bagaimana negeri mini itu hidup dari judi dan uang pelarian koruptor koruptor kita atau hidup dari gobloknya orang orang kita yang mau nyohor dan pelesir ke sana , tetapi tentang yang lain.

Kaos itu berkeluh tentang bagaimana singapura terkenal sebagai fine city, bukan berarti fine yang artinya baik, tetapi fine yang berarti denda. Kota penuh denda , begitu maksudnya.

Meludah, denda 100 dollar, membuang bekas permen karet 100 dollar, membuang sampah denda 100 dollar dll. Hahahaha… saya terkesan dengan pemilihan kata kata “ fine” tadi yang berisi hinaan halus ituh.

Nah, kalo singapura terkenal dengan fine city, saya malah nggak tertarik , sama sekali nggak tertarik untuk pergi kesana. Saya lebih tertarik untuk pergi ke Vietnam, atau ke kamboja, daripada pelesir belanja yang notabene barang barangnya cibaduyut cap singapur dan barang barang ber merk yang di tanah abang atau roxy pun buanyak dengan model yang sama, tentunya harganya khas roxy, tanah abang atau mangga dua, hahaha.

Cerita tentang barang bermerk, saya inget bahwa saya nggak “pawakan” memakai barang bermerk. Pas saya benar benar beli barang ber- merk, dengan merogoh kantong agak dalam, malah dianggap barang saya tadi barang KW yang didapatkan di mangga dua, jadi pake barang bermerk atau nggak, bagi saya nggak masalah, yang penting nyaman dan terkendali. Itu beda dengan temen saya, yang memakai barang bermerk apapun, akan dianggap aseli dan barang mahal, dan pasti ditanyaain “ he, lu beli ta LV ini berapa di paris? Atau sepatu adidasmu ini keluaran terbaru yah, di singapur berapa kemaren?? Padahal pas nongkrong dengan aku, dia dengan polos ngaku kalo barang barang itu dia beli di tanah abang dan mangga dua. Nah ini yang saya bilang bahwa dia punya “pawakan” memakai barang merk.

Kembali ke topic, fine city tadi, say jadi inget bahwa Di Jakarta pun sudah menjadi kota yang sangat tertata dan otomatis, semua serba otomatisasi, semua berbayar. Saat anda ingin ke WC, harus bayar, bahkan mau wudhu utuk sholat pun harus ditarik bayaran alias dipaksa untuk membayar ( ini di stasiun KRL pasar Minggu).
Bila ingin menjadi aparat, bayar dulu. Mau jadi PNS? Bayar dulu, mau parkir, bayar dulu, mau sholat pun, bayar dulu. Mau cepat bayar dulu tambahan, mau jualan? Bayar dulu.

Ah ternyata negeri ini juga sudah tak kalah otomatisnya dengan negeri negeri maju, dimana semuanya serba otomatis. Bayar dulu, otomatis anda bisa jadi yang anda mau. Negeri Berbayar 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...