Friday, 20 May 2011

Seni mengelola masalah. (How to manage conflict?)


Ada cerita menarik dari salah seorang kawan di rainy city, temen akrab yang sama sama penggemar klenengan Njowo.

Suatu saat ada cerita yang katanya tak fiktif dan benar adanya, Begini :

Ada seorang sopir taksi yang kebetulan lagi ada langganan mengantarkan ke tempat meeting di SCBD, dan timbulah percakapan singkat antara si sopir dan penumpangnya ini,

Sopir : walah, taksi sepi banget pak, pusing saya! Mana lagi anak minta dibelikan sepeda, anak semata wayang saya. Boro boro beli sepeda, buat makan dah cukup aja seneng saya.

Penumpang : halah, klo sepeda mah enteng pak, di rumah saya juga banyak tuh sepeda, fixie, lipet dan gunung. Saya juga malah pusing ini, anak minta dibelikan sepeda motor Kawasaki Ninja.

Sopir : wah, berarti sama sama pusing ya pak?

Kemudian, si penumpang ini ketemu dengan temennya, di a bercerita bahwa dia lagi pusing dan stress, anak semata wayangnya ngotot minta dibelikan motor mahal itu, boro-boro beli motor mahal, cicilan KPR aja belum lunas. Tetapi ternyata temennya yang dicurhati tadi yang kondisi ekonominya jauh diatasnya, ternyata juga lagi pusing dengan masalahnya. Dia motor mahal dah punya, ada CBR ada Kawasaki Ninja, tetapi dia pusing, karena istrinya minta dibelikan mobil Honda Stream., Ternyata diatas langit masalah ada masalah lagi.

Kemudian orang yang pusing karena istrinya minta dibelikan mobil tadi curhat pada bosnya, dan ditertawakan ma bosnya, karena masalah mobil katanya simple dan mudah ( buat bosnya itu). Bosnya sekarang lagi pusing tujuh keliling karena istrinya minta cerai kalo ndak dibelikan Ferrari, terinspirasi si MD yang punya Ferrari, karena mobil sekelas stream dan lainnya dia dah punya banyak di rumah si bos ini.

Dan akhirnya si bos ini curhat kepada komisaris perusahaannya, dan ternyata si komisaris ini juga menyimpan masalah ( tetapi karena jaim, dia nggak menceritakan pada bawahannya ini).Dia hanya membesarkan hati si bos bawahannya, bahwa mudah itu beli Ferrari, kenikmatannnya cuman seminggu sekali, saat dia liburan dan di “wah” kan oleh orang orang yang dilewatinya. Dia sudah bosan dengan mobil-mobil mewahnya.

Akhirnya, ternyata tak diduga, si komisaris ini ketemu dengan tukang becak dan ngobrol dengan tukang becak saat mengantarkannya ke kampung batik di Solo. Dia menceritakan kepusingan dan masalah besar yang dihadapi saat ini. Ternyata istri si Komisaris ini sudah tak mau minta yang mewah mewah lagi, sudah bosan katanya, dia hanya minta agar bisa ikut kemana saja si komisaris pergi, dan ini menjadi masalah besar bagi sang Komisaris. Si tukang becak hanya tersenyum dalam hati. Dia berfikir, kalo masalah istri ingin ikut kemana saja, si tukang becak menganggap hal yang sangat simple dan mudah. Masalah si tukang becak ini adalah bahwa dia bingung, besok masih ada uang apa nggak untuk bisa dibelikan beras.

2 comments:

lha endi mengelola masalahe???

Ro ha : masa nggak ada? waduh, ketinggalan brarti :)

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...