Tuesday, 8 March 2011

Untung saya tak punya Televisi :)

Saya merasa cukup beruntung tidak memiliki tivi, sangat merasa beruntung karena provokasi provokasi media yang mencoba mengarah ke pemirsa ( termasuk saya) agak berkurang frekwensinya dan membuat saya akhirnya merasa lebih tenang.

Saat ini pun, hiruk pikuk berita mengenai susu formula yang tercemar bakteri entero bakter sakazakii ( bener gak yah pelafalannnya) hanya numpang lewat di telinga saya karena hanya secara tak sengaja melintas saat membaca harian yang tersedia gratis di warung kopi sebeah rumah, yah sambil menyeruput kopi dan nongkrong sore bersama teman teman satu RT.

Bahkan, berita mengenai cerita ( yang katanya heboh) yang dibuat heboh sangat, tentang rencana pemimpin negeri ini yang akan mengganti jajaran menterinya tak sedikitpun membuat saya tertarik untuk ikut mengomentarinya, ikut memberikan sumbang saran, toh apa gunanya buat saya??

Seperti saat kemaren, saat tak sengaja seorang temen yang juga aktivis nongkrong di warung sangat antusias tertarik mengikuti berita berita mengenai rencana resapel kabinet itu dan tak ketinggalan untuk mengganti channel di TV yang memuat berita itu, Wowww… ternyata hampir semua setasiun tivi membahas tentang rencana seorang pemimpin partai (yang kebetulan menjadi wakil para rakyat di negeri ini untuk memimpinnya) yang akan mengadakan resapel.

Ah, kembali saya kehabisan kata kata untuk memberikan tanggapan? Lha apa yang mesti saya tanggapi? Ini kan urusan parti yang isinya toh juga orang orang yang sedang mencari sesuap nasi untuk membayar spp anak anaknya, menyicil mobil, gaya gayaan di jalan pake mobil emblem DPR? Kenapa harus ribut ikutan membahas orang yang juga sedang bekerja??? Hahaha

Toh saat seorang menteri diganti pun tak merubah apapun (pikir saya) , tak merubah kemacetan di ibukota ini yang telah mengakar seperti pohon beringin di sekolah smp saya. Dan bahkan tak merubah sedikitpun jumlah pelanggan yang akan berbelanja di toko kaki lima saya.

Tak ada yang berubah dengan hiruk pikuk ini J

Resapel hanyalah sebuah acara perhelatan sebuah partai dan sejumlah partai lain yang kebetulan mengais rejeki dari pajak yang saya bayar. Yah saya juga maklum kok, mereka tak bisa bekerja seperti saya, berdagang dan berpeluh keringat untuk bisa menghidupi anak istri saya, apalagi harus mengangkat angkat barang dagangan di bawa wira wiri untuk mencari margin laba.

Sekali lagi resapel yang dihebohkan tivi tivi itu tak berarti apa apa buat saya (dan yang menyedihkan, tak membuat sedikitpun saya menambah kepercayaan pada organisasi yang bernama partai partai itu).

Silahkan saja pak presiden mengganti mentri mentrinya, karena merasa sudah tak sepaham dengan program partainya, karena mungkin partai biru ingin mendapatkan nasi sebanyak 5 bakul plus tempe, tetapi partai kuning pengen nasi 6 bakul tanpa tempe atau partai putih ingin mendapat 3 bakul nasi sepiring tempe dan susu segelas, pastilah akan beda kan? Toh itu kan urusan partai partai yang sedang berkuasa dan tak merubah apapun. Tak merubah keadaan bahwa untuk mendapat sekolah yang layak di negeri ini harus susah payah dan kaya, dan tak merubah sedikitpun standard kemiskinan di negeri ini yang hanya menganggap warganya miskin ( padahal dg penghasilan segitu artinya dah mau mati) bila berpenghasilan kurang atau sama dengan 7.000 rupiah sehari. Dan bahkan tak merubah sedikitpun keadaan di negeri ini bahwa untuk mendapat surat keterangan pun harus mengeluarkan kocek agar bisa diproses.

Hahaha, sekali lagi saya merasa terbantu dengan tak adanya tivi di kamar saya, sehingga saya bisa memilih lama website kesukaan saya disbanding harus psarah menerima kenyataan bhawa semua setasiun tivi membhasa orang orang yang sedang bekerja berkedok “atas nama rakyat” beradu acting layaknya srinetron nya keluarga Punjabi.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...