Tuesday, 1 March 2011

Kita Bisa kelaparan, kisanak?


Saat ini, para petani yang masih setia dengan tanaman padi ( yang pada akhirnya mensuply kebutuhan pangan nasional dan kekurangnnya ditambal dengan impor beras) adalah para orang orang tua yang bertahan hidup di kampung dan para pemuda yang notabene tak bisa bersaing di sektor lain.


Cobalah klo pas pulang kampung di kampung ( bagi yang pulang kampung) atau bagi yang ndak punya kampung, silahkan dicek. Ternyata kita selama ini dihidupi oleh para tetua dan warga yang terpinggirkan secara skill dan kesempatan sekolah lebih tinggi.

Kok bisa masdhenk?

Lha iya toh, coba tengok, temen temen kita yang ( maaf) tidak bisa meneruskan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, yang terpaksa bertahan di kampung karena tak bisa mencari kerja di perantauan atau karena memang kalah ijazah dengan teman temennya sekampung, merekalah yang selama ini mengidupi kita secara tak sadar.

Ya, mereka menghidupi para professional, para pemegang ijazah kelas wahid di negeri ini.

Saat ini, para petani yang masih setia dengan tanaman padi ( yang pada akhirnya mensuply kebutuhan pangan nasional dan kekurangnnya ditambal dengan impor beras) adalah para orang orang tua yang bertahan hidup di kampung dan para pemuda yang notabene tak bisa bersaing di sektor lain.

Hal yang menyedihkan lagi, ternyata jurusan pertanian bukanlah jurusan favorit di perguruan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Para pemuda cerdas lebih nyaman dan keren bila masuk di jurusan pertambangan, manufaktur, dan jurusan teknik lainnnya.

Dan yang menyedihkan lagi, para insinyur pertanian ( sebutan dahulu untuk sarjana pertanian) malah banyak hengkang dari khittahnya dan dibajak di industri industri peternakan dan bahkan perbankan.

Hal ini bukanlah semata mata karena kesalahan para pemuda berotak encer saja yang malas masuk pertanian, tetapi lebih dikarenakan keadaan sektor ini yang memang sangat tak layak untk dijadikan gantungan hidup.

Salah satu contoh, mengutip kompas di Banyumas, ketua Kontak tani Nelayan Andalan banyumas menyatakan bahwa setidaknya 70% dari 25000 petani di wilayah banyumas adalah petani tua dengan umur diatas 55 tahun !!

Jangan jauh jauh, disekitar kita saja, berapa sih temen temen kita yang berotak encer mau menjadi petani?? Dan juga saya sendiri :(

Dan ternyata kita semua sampai saat ini masih makan nasi, dari para petani tua dan para pemuda yang merasa gagal bersaing di sector lain ini. Dan jumlah mereka semakin hari semakin tergerus karena kebutuhan ekonomi yang tak bisa dicukupi dengan bertahan di sector pangan ini :(

Semoga ketahanan pangan kita masih bisa bertahan.

Wallahu’alam

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...